Setelah bertahun2 cuma nemu di Wikipedia doang jadi ga berani ambil buat referenai dan awal taun ini dapet sumber dari lembaran profil desa Margakaya yg agak seadanya, pagi ini nemu tulisan ini di buku "Toponimi Indonesia, Sejarah Budaya Bangsa yang Panjanh dari Pemukiman Manusia dan Tertib Administrasi".
Selalu termotivasi untuk menggali dan melakukan publikasi tentang tempat tinggal sendiri. Setelah bahas kosakata genteng, filosofi kenduri Jawa, dan sekarang ini masih tahap akhir nulis tentang situasi kebahasaan di Pringsewu sebagai pamungkas belajar di UI ttg bahasa dan kebudayaan.
Entah mau dibilang play safe ngotak atik daerah sendiri or terlihat terlalu bangga bentar2 bahas Pringsewu, saya sebenarnya agak malu dan sedih ketika mencari info di perpustakaan daerah kabupaten, sejarah Pringsewu, misalnya hanya ada di lembaran2 kertas itupun sama persis dg wikipedia entah siapa yg duluan nulis. Dan mungkin tidak banyak yg tau kondisi bahasa Lampung di Pringsewu sudah mulai memprihatinkan di generasi usia saya dan dibawahnya dan pasti tambah sulit untuk akhirnya membuat kebijakan bahasa kalau datanya sangat minim. Dengan menulis, banyak orang yg (mudah2an) membaca, kasih ide, kolaborasi, ngajak orang nulis bareng, getok dan tular, ke forward sampe ke pemangku kepentingan daerah dan end goalnya adalah bisa memunculkan kebijakan baru.
Kalau Prof. Emi punya slogan "Matakna Maca", sekarang kayanya harus mulai mengikuti slogan/judul buku alm. Prof Chaedar "Pokoknya menulis".
![]() |
| Foto diambil dari akun FB : Suprayogi |
Label: Gaya Hidup, Inspiratif, News Flash, Sekilas Info